Selamat Datang di Blog "Rumah Pintar Al-Ma'Arif - Sumbawa Besar"
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

Ayo, Berkunjung ke "Rumah Pintar"

 
JAKARTA, KOMPAS.com — Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) mengalihkan fokus program Indonesia Pintar dari Motor Pintar ke Rumah Pintar. Alasannya, di sejumlah daerah, Motor Pintar telah beralih fungsi.

"Di Papua, motor dipreteli, kotaknya dijadikan tempat ikan. Kami prihatin dengan hal ini. Karena itu, kami fokus di Rumah Pintar dulu. Walau permintaan banyak dari motor dan mobil," kata Koordinator Rumah Pintar Laily Mohammad Nuh di acara penyerahan sumbangan piano digital oleh SIKIB untuk Rumah Pintar di kantor SIKIB, Jakarta, Rabu (21/9/2011).

Laily menjelaskan, program Indonesia Pintar memiliki beberapa fasilitas berupa Mobil Pintar, Motor Pintar, Kapal Pintar, dan Rumah Pintar. Semua fasilitas tersebut dimaksudkan untuk pendidikan nonformal bagi anak-anak usia 4 hingga 15 tahun. Menurut Laily, kini pendidikan usia dini pun sudah bisa dilakukan di Rumah Pintar.

"Di Rumah Pintar ada tema yang diangkat oleh tutor. Dalam satu paketnya itu untuk enam bulan, setelah itu bisa diamati perubahan perilaku dari anak yang belajar," kata Laily.

Saat ini, sudah ada 255 Rumah Pintar di seluruh Indonesia. Rencananya, pada 2011 ini akan ada penambahan Rumah Pintar yang berasal dari berbagai pihak, mulai dari Kemdiknas, yayasan, dan pihak swasta.

Laily mengatakan, Rumah Pintar menerapkan konsep yang telah diberikan oleh Indonesia Pintar, termasuk tutor yang telah dilatih sebelumnya. Namun, masing-masing Rumah Pintar tetap menyesuaikan potensi di daerahnya.

Misalnya, Rumah Pintar yang ada di Ocean Dream Samudra (ODS), Ancol. Menurut Sekdit Rekreasi PT Pembangunan Jaya Ancol Harwanto, Rumah Pintar di ODS berfokus edukasi mengenai kehidupan laut.

"ODS yang kita dorong adalah edutainment, bagaimana ODS menjadi tempat anak-anak berwisata, tetapi juga belajar. Kalau dilihat dari kunjungan, 20 persen kunjungan individu masuk ke Rumah Pintar. Kalau rombongan malah arrange khusus untuk membuat visit ke Rumah Pintar karena ada lembar karya siswa yang harus diisi dan nanti dibimbing oleh pembina dari kita," tuturnya.

Sementara itu, Rumah Pintar yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria di Tangerang memfokuskan diri pada kreasi. Petugas Bagian Pembinaan Lapas Anak Pria Tangerang Bagus Sumartono mengungkapkan, Rumah Pintar di Lapas tersebut memberikan pelatihan keterampilan, seperti pembuatan batik, sablon, sampai aksesori.

" Di Lapas anak ada kegiatan yang berhubungan dengan kepribadian dan kemandrian. Kepribadian adalah sekolah yang ada di Lapas tingkat SD sampai SMU. Kemandiriaan itu ya pelatihan keterampilan di Rumah Pintar. Ini jadi pembekalan mereka saat nanti keluar," ujarnya.

Bagus mengungkapkan, dari 370 anak yang berada di Lapas tersebut, ada 40-60 anak yang dilibatkan di Rumah Pintar. Menurut dia, tidak semua anak ikut dalam Rumah Pintar karena dilihat dari minat dan bakatnya.

"Kalau anak itu tidak ada minat, tidak akan kami masukan di Rumah Pintar. Banyak yang setelah keluar dari Lapas mereka melanjutkan keterampilan yang telah didapatnya itu," kata Bagus
Read more »

Selasa, 20 Desember 2011

Sebuah Haparan Yang Bisa Disandarkan Pada Anak!

Bermain bersama anak-anak lugu di kampung Nyaolako pedalaman Halmahera sana, kami menjadi tahu, kalau mereka pun ternyata tahu akan jenis-jenis burung, tahu akan jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan, tahu kalau ada yang menangkap burung dan menjual dengan harga yang sangat-sangat murah. Mereka tahu kalau di belakang kampung mereka mengalirair dengan skala debit maha dahsyat dari sungai Lolobata. Mereka tahu itu. Tapi hanya sebatas tahu. Tak lebih hebat dari upaya orang dewasa untuk berpikir prefentif menyelamatkan hutan, menyelamatkan satwa liar, menyelamatkan sumber air, menyelamatkan hidupan ekosistem hutan, apalagi berpikir tentang kebutuhan anak-cucu, benar-benar sebuah harapan yang jauh panggang dari api untuk kategori kelas bocah.

13191625122038602676Suasana bermain bersama anak di SD Negeri Puao, Kec. Wasile Tengah, Kab. Halmahera Timur
 
 
Nun jauh di pedalaman Halmahera, tepatnya di Desa Nyaolako, Kecamatan Wasile Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, Propinsi Maluku Utara.
Kami mendekat ke sebuah sekolah dasar inpres. Letaknya tidak jauh dari rumah kepala desa yang beberapa langkah saja ke depan hamparan pasir putih memanjang hampir sekilo panjangnya.

Anak-anak sedang asyik bermain di Jumat pagi itu. Sebagian lain bersih-bersih halaman. Ada dua balai bengong di depan ruang kelas. Halaman bersih. Kepala sekolah dan empat guru bantunya sedang duduk santai di salah satu balai bengong itu.

13191627421230238168
Suasana bermain bersama anak di SD Inpres Nyaolako
Siswa kelas empat, lima dan enam berkumpul di satu ruang kelas. Semua berjumlah dua puluh delapan. Para siswa diajak bercerita tentang alam, tentang lingkungan hidup, tentang bagaimana melestarikan alam dan menjaga kesehatan lingkungan sekitar, tentang kekayaan flora dan fauna di hutan, tentang burung-burung sebagai satwa liar yang harus dilindungi, tentang pohon di hutan yang harus dilindungi, dan tentang semua kekayaan alam khas maluku utara yang harus dilindungi dan dilestarikan.

Anak-anak antusias mendengar informasi tentang kekayaan alam hutan Halmahera. Tak satu pun ketinggalan mengacungkan tangan ingin menulis di papan tulis, nama burung yang diketahuinya. Ada yang menuliskan nama burung dalam bahasa Indonesia, ada juga yang menulis dalam bahasa lokal (bahasa setempat).

1319163599511248252
Salah satu siswa SD Inpres Nyaolako sedang menulis jenis-jenis burung di papan tulis kelas

Dalam sekejap, papan tulis telah dipenuhi daftar panjang nama-nama burung yang diketahui anak-anak, seperti: kakatua putih, nuri, taong, maleu, cingkole, elang, gagak, dan lain-lain.  Mereka pun menuliskan tentang semua komponen ekosistem hutan yang mereka ingat, seperti: tumbuhan, hewan, pohon, kayu, buah, tanah, kelapa, air, babi hutan, rusa, dan lain-lain.

1319163744832074560
Pak Aep Gun Gun Wigandi dari Balai TN Aketajawe Lolobata, Prop Maluku Utara sedang memfasilitasi kegiatan bermain bersama anak

Siang itu anak-anak benar-benar menikmati suanana bermain bersama. Suasana di mana anak-anak bermain tanpa merasa digurui, tanpa merasa didikte, dan tanpa merasa ditekan. Dalam situasi informal, mereka telah menggarap begitu banyak informasi, mengantongi banyak informasi baru dan menarik.

13191639021940111531
Anak-anak SD Inpres Kakaraino dalam suasana bermain menyusun puzzle

Tidak sampai di situ saja. Anak-anak diajak menyusun gambar (puzzle) yang telah digunting per bagian tercerai-berai. Mereka bekerja dalam tim untuk menyusun kepingan gambar menjadi sebuah gambar utuh. Berhasil. Sebuah gambar burung Kakatua Putih dan Kasturi Ternate. Setelah itu, kepingan gambar ditempel-satukan pada selembar kertas A-tiga. Mereka ramai sekali. Masing-masing kelompok berusaha mewarnai gambar dengan paduan warna paling menarik mendekati warna asli pada gambar yang ditempel di depan kelas.
Guru-guru pun tak ketinggalan ikut-ikutan bermain bersama anak didiknya. Ada kelompok yang sedikit lamban menyatukan kepingan-kepingan gambar, sebentar-sebentar ada seorang guru yang sedikit bersembunyi di balik kerumunan siswa, memberikan arahan agar anak-anak cepat menyelesaikan puzzle tersebut.

Ramai sekali anak-anak di siang terik itu. Keterbatasan spidol dan pensil warna melahirkan suasana tarik-menarik dan saling rebutan di antara anak-anak, hanya untuk memberikan ‘warna burung terbaik’ sebagai sebuah kesan puas kepada gurunya. Ada kelompok yang hasil pewarnaan melenceng jauh dari warna asli burung di alam. Itu bukan karena ketidaktahuan tapi alasan keterbatasan sarana dan kejenuhan untuk lebih lama antri dan menunggu.

Anak-anak itu cerdas! Ternyata mereka tahu jenis-jenis burung yang sering mereka jumpai dalam keseharian, baik itu sebutan dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa lokal. Mereka tahu apa yang ada di belakang kampungnya. Di belakang sana, maha luas terbentang berpuluh kilo meter panjangnya, berderet-deret pohon di dataran, lereng sampai ke puncak bukit dan gunung, yang mereka sebut hutan. Mereka tahu, orang-orang sekampungnya bertani kelapa berdusun-dusun sampai ke kaki gunung yang berhutan lebat itu.

1319164098778942844Salah satu kelompok bermain anak di SD Negeri Puao sedang mewarnai puzzle yang telah berhasil disusun
 
 
Tanpa bermain bersama mereka, kita tak mungkin tahu kalau anak-anak lugu di kampung Nyaolako pedalamanHalmahera ini tahu akan jenis-jenis burung, tahu akan jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan, tahu kalau ada yang menangkap burung dan menjual dengan harga yang sangat-sangat murah. Mereka tahu kalau di belakang kampung mereka mengalir air dengan skala debit maha dahsyat dari sungai Lolobata. Mereka tahu itu. Tapi hanya sebatas tahu. Tak lebih hebat dari upaya orang dewasa untuk berpikir prefentif menyelamatkan hutan, menyelamatkan satwa liar, menyelamatkan sumber air, menyelamatkan hidupan ekosistem hutan, apalagi berpikir tentang kebutuhan anak-cucu, sebuah harapan yang masih jauh panggang dari api untuk kategori kelas bocah.

1319164268712402247
Salah satu kelompok kerja siswa di SD Inpres Nyaolako dengan hasil kerja terbaik mereka
Tapi, semangat yang tetap memberi harapan adalah, minimal satu dari kedua puluh delapan anak usia sekolah ini akan mematri pengalaman bermain ini sampai usia remaja, dewasa, bahkan tua. Kapan pun, di mana pun, bahkan dengan siapa pun, seorang bocah itu akan terus berpikir tentang ada begitu banyak nama burung yang disebutkan kawan-kawan saya di kelas saat itu: ada burung taong, ada pambo, ada kakatua, ada nuri, dan lain-lain. Dan menurut bapak-bapak itu, burung-burung ini tidak boleh ditangkap. Tidak boleh dijual. Biar mereka bebas hidup di alam. Menurut bapak-bapak itu, jangan terus-menerus tebang pohon, nanti hutan gundul, tanah terkikis, air meluap, dan kampung saya bisa kena bahaya banjir. Kalau pohon-pohon tinggi ditebang semua, burung kakatua tidak punya tempat lagi untuk bertelur, menetas dan berkembang biak, dan pada akhirnya punah!
Setidaknya harapan inilah yang bisa disandarkan pada seorang bocah dari dua puluh delapan siswa yang bermain bersama di siang terik itu.

Siang itu mereka tak berseragam, dan mungkin juga ada yang tak sempat mandi dan sarapan, seperti halnya kebanyakan anak-anak usia sekolahan sekelas mereka yang kita jumpai di kota-kota. Ruang kelas mereka pun tak ramai dipenuhi fasilitas dan alat peraga pendidikan lainnya. Sepi. Kering. Pengap dan sedikit kesan kumuh karena di bagian belakang ruang kelas, ada setumpuk meja dan kursi rusak. Sepintas kesan, anak-anak ini tentunya sepi kreativitas sesepi ruang kelasnya. Ternyata tidak! Mereka nyambung juga ketika diajak bermain dan bercerita tentang alam, tentang hidupan alam liar, tentang hutan, tentang air, dan tentang lingkungan sekitar. Kurang lebih dua jam bermain bersama anak-anak, tidak ada yang yang salah dari mereka. Apa yang mereka katakan, benar semuanya, apa pun itu! Ada yang ditertawai teman saat bicara, tetapi mereka lebih percaya diri bercerita tentang sesuatu yang salah, karena gurunya memberi motivasi ekstra untuk berani bicara! Pada gilirannya, semua ramai-ramai acungkan tangan, ramai-ramai bicara, ramai-ramai membuat kesalahan, dan ramai-ramai diperbaiki oleh sang ahlinya, ‘guru’.

Di atas meja guru, bertumpuk-tumpuk buku referensi mata pelajaran. Ada buku ‘IPA dibuat Asyik, Penerbit pe-te armandelta, ada buku cerita ‘si dul anak betawi’, ada buku cerita ‘pendekar dari aceh’, dan ada buku matematika – mari berhitung, karangan Djoko Moesono dan Sujono tahun 1993 (sekarang tahun 2011).
Di saat siswa mulai bosan dengan cerita si dul anak sekolahan, guru mulai ‘ngarang’ cerita tentang seorang wanita tangguh dari Pumlanga (sebuah kampung nun jauh tersudut Pulau Halmahera) yang berjuang berjalan berpuluh kilo meter jauhnya untuk bisa sekolah – seperti Laskar Pelanginya Andrea Hirata lah kira-kira.

Di saat anak-anak mulai jenuh dengan cerita pendekar dari aceh, guru bisa bercerita tentang suku orang tobelo dalam atau togutil yang tangguh, yang survive hidup, dan yang jauh lebih beradab menjaga hutan rimba raya Halmahera.

Biar anak-anak tidak menebak secara liar dan imajiner, di mana si dul, bagaimana dengan akhir cerita pendekar aceh. Melokalkan tempat dan peristiwa yang dibumbui aneka pesan kearifan lokal, jauh lebih membumi dan membuat anak lebih akrab dengan cerita, dan membuat anak lebih cepat mengolahnya.

Pelestarian alam! Restorasi ekosistem! Sebegitu besar harapan mulia yang bisa disandarkan pada sang anak!

Sosialisasi, informasi, dan kegiatan penyadartahuan juga dilakukan bagi siswa-siswi SMP dan SMA yang berada di lingkar Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Halmahera, Maluku Utara.

13191644682120764536
SMP Negeri 6 Silalayang, pada kegiatan penyadartahuan bagi siswa di sekolah
13191645691977426309
SMA Negeri Lolobata, dalam kegiatan penyadartahuan bagi siswa di sekolah


13191646401392073849
SMP Negeri Hilaitetor, dalam kegiatan penyadartahuan bagi siswa di sekolah


Posting disadur ulang dari sumber :
http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/10/21/sebuah-haparan-yang-bisa-disandarkan-pada-anak/
Read more »

Selasa, 13 Desember 2011

Layanan Perpustakaan

 
Kayaknya nama “Perpustakaan” kurang keren kalo didengar. Mungkin bisa jadi? Sebab itu akhir-akhir ini banyak sekali orang-orang yang mendirikan perpustakaan dengan nama lain? Misalkan di jogja ada taman pintar, sebuah tempat rekreasi pendidikan yang memiliki banyak koleksi buku, audiovisual, peraga fisika ringan dan wahana bimbingan belajar. Mereka nggak mau disebut sebagai perpustakaan karena menurutnya ia berbeda dengan perpustakaan. Juga mobil Pintar, Rumah Baca dan yang lainnya. Termasuk desa hargotirto mempunyai perpustakaan yang bernama Perpustakaan Desa Rumpin Hargotirto, berada di Rumah Pintar Hargotirto, Kokap,  Kulon Progo, Yogyakarta.


Tahun 2010, Ibu Ani Yudhoyono meresmikan Rumah Pintar yang isinya beragam, ada buku, komputer, televisi, dan permainan anak dengan maksud agar bangsa Indonesia menjadi maju dengan rakyatnya yang pintar dan berkarakter. Sehingga kehadiran perpustkaan Rumah Pintar bukan sebagai gudang buku tetapi sumber ilmu.

Pelatihan Untuk Tenaga Perpustakaan Rumah Pintar, Mobil Pintar dan Motor Pintar se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Hotel Saphir Yogayakarta

Pada hari Selasa-Kamis tanggal 4-6 Oktober 2011 bertempat di ruang sidang Hotel Saphir Jl. Laksda Adisucipto Yogyakarta Badan Perpustakaan dan Arsip daerah bekerjasama dengan Direktorat Jendral Pendidikan Non Formal dan Informal Kemendiknas mengadakan acara “Pelatihan administrasi, dan perpustakaan dalam rangka pendampingan rumah pintar, mobil pintar dan motor pintar di wilayah Yogyakarta”.

Pada pelatihan yang diikuti sekitar 94 petugas perpustakaan rumah pintar, mobil pintar dan motor pintar dari berbagai daerah yang ada di DI. Yogyakarta, para peserta tampak antusias serta bersemangat mengikutinya, hal ini dikarenakan pada kesempatan itu mereka mendapatkan banyak informasi, ilmu dan pengetahuan serta wawasan baru di bidang perpustakaan.

Selain mendapat materi secara teoritis dan praktek, dijadwalkan masing-masing perpustakaan akan menerima seribu eksemplar buku dan dua rak pada bulan ini dari Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY. Zuki Rumpin.


sumber : http://lppm.ugm.ac.id/sikib-ugm/rumpin_hargotirto.yk/?p=381
Read more »

 
Powered by Blogger